DI TIONGKOK  PERS SEJATI  TELAH MATI, DI INDONESIA ORGANISASI WARTAWAN SEPERTI LAGI JALAN SETENGAH MATI  

40

DI TIONGKOK  PERS SEJATI TELAH MATI, DI INDONESIA ORGANISASI WARTAWAN SEPERTI LAGI JALAN SETENGAH MATI

Oleh UPA LABUHARI SH MH

Makassarpena.co.id. Ketika seorang loper koran memberi kepada saya secara cuma cuma bacaan mingguan ‘’ The Epoch tTmes’’ terbitan 22-30 Nopember, rasanya tidak ada niat untuk membacanya. Apalagi untuk menyimpannya sebagai referensi data sebagaimana sering saya lakukan di waktu masih menduduki jabatan sebagai pemimpin redaksi sebuah majalah hukum dan bisnis di Jakarta diawal tahun 2000an.

Hanya  karena seuntai kata sederhana dari loper koran itu secara bisik bisik  mengatakan ,  ‘’ jangan buang sembarangan koran ini jika tidak mau membacanya ,” ketusnya. Maka sayapun menyimpan lembaran koran yang berjumlah enam belas halaman itu di dalam map saya ketika sedang berada di ruang tunggu PN Jakarta Utara Selasa (30/11) siang sambil  menunggu berita hasil  persidangan gugatan empat wartawan Makassar melawan pengurus organisasi wartawan  Indonesia yang  disebut PWI Pusat dan PWI Sulsel.

Ditengah penantian itu saya mencoba  membolak balik lembaran koran ini dan sampai pada halaman Fokus Ekstra, saya tertarik pada sebuah artikel opini yang berjudul  ‘’ Di Tiongkok,  Pers Yang Sejati Telah Mati’’ ditulis oleh wartawannya   bernama Zhang Jin. Setelah membaca judul artikel ini saya membaca leadnya yang menyebutkan  pada tanggal 8 Nopember lalu adalah hari wartawan Tiongkok  ke 22 yang diperingati secara sederhana di tengah Pemerintah Negara Otoriter yang menekan kebebasan pers.

Lead tulisan itu mengingatkan saya akan hari lahir Pers Nasional yang setiap tahun diperingati pada tanggal 9 Februari sebagai hari menghormati lahirnya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia yang disebut dengan nama PWI. Pada tahun 2011 saya pernah ditunjuk menjabat sebagai wakil ketua hari Pers Nasional di Kupang NTT yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudiono.

Lead tulisan Zhang Jin ini   kemudian membuat saya ingin mengetahui keseluruhan isinya. Sebab sepertinya cerita tulisan ini mirip dengan keadaan organisasi pers  di Indonesia.

Disebutkan, pada tahun 2020 banyak wartawan (jurnalis)  ke Wuhan untuk meliput keadaan daerah pusat Pendemi Covid -19 di Tiongkok. Wartawan yang meliputi di daerah ini banyak pula yang ditangkap oleh petugas kepolisian setempat berdasarkan aturan yang berlaku. Salah seorang diantara wartawan yang ditangkap pada bulan Mei 2020  bernama Zhang Zhan. Lalu di bulan Desember 2020 sang wartawan dijatuhi hukuman penjara 4 tahun dengan tuduhan melakukan kejahatan yang memicu kericuhan dan provokasi ketengangan di tengah masyarakat Tiongkok.  Wartawan ini tercatat sebagai jurnalis pertama di Wuhan yang dijatuhi hukuman penjara dari sekian banyak wartawan yang telah ditangkap sampai sekarang.

Sebagai wartawan peliput pendemi Covid -19  , terpidana Zhang Zhan telah didapati mewawancari dan memfoto korban ganasnya penyakit ini di tengah masyarakat Wuhan dan iapun didapati telah ke rumah sakit tempat perawatan korban Covid -19 di Wuhan sebelum ditangkap Polisi  dan dinyatakan bersalah oleh Pengadilan di Wuhan.

Akibat keberaniannya meliput kejadian Covid -19 di Wuhan dan memberitakannya kepada seluruh masyarakat Tiongkok, bahkan ke seluruh dunia, maka pada hari wartawan Tiongkok tangggal 8 Nopember lalu, ia mendapat penghargaan Kebebasan Pers ( Press freedom Prize ). Sebelumnya pada bulan Mei 2021 ia mendapat penghargaan (Lin Zhao Freedom Award).

Selesai  membaca artikel ini, sayapun teringat akan nasib rekan saya Asrul, wartawan di Makassar yang dihukum oleh Pengadilan Negeri Palopo tiga bulan penjara karena dianggap telah mencemarkan nama baik anak pejabat di Palopo dengan membuat tiga kali laporan investigasi di medianya yang menyebut pelapor telah melakukan  perbuatan korupsi.

Demikian pula nasib rekan saya Kadir Sijaya yang lima bulan ditahan dalam penjara Makassar tapi  akhirnya dibebaskan oleh Pengadilan Negeri Makassar karena laporan rekan sesama.wartawan yang waktu itu menjabat sebagai Ketua PWI Sulsel tidak terbukti sama sekali. Sepertinya nasi telah menjadi bubur dalam hidup Kadir Sijaya . Ia menderita bersama keluarga selama 5 bulan sementara pelapornya bersenang ria di Jakarta sebagai orang ketiga di organisasi wartawan Indonesia tanpa sedikitpun mempedulikan nasib Kadir yang dituduh mencemarkan nama baiknya lewat pemberitaan Fb.

Dalam hati kapan ya Asrul dan Kadir Sijaya bisa mendapat suatu dukungan dari organisasi wartawan di negeri ini seperti yang dilakukan oleh organisasi wartawan di Tiongkok terhadap  Zhang Zhan . Apakah mereka berdua juga layak untuk menerima penghargaan dari organisasi wartawan Indonesia karena penderitaannya menegakkan keadilan di negeri ini lewat tulisan?, tanya saya dalam hati.

Dan bersamaan dengan itu muncul jawaban yang spontan dalam hati, ‘’ jangankan  hadiah penghargaan mau diberikan kepada Asrul dan Kadir Sijaya  sebagai wartawan Indonesia pemberani membongkar kasus korupsi di tanah air,  bantuan hukum dan dukungan moril saja belum pernah diberikan oleh organisasi wartawan Indonesia ’’. Sayapun kemudian tertekun dan berkata dalam hati. ‘’Kalau begitu benar yang disampaikan oleh kawan kawan seperjuangan di Makassar yang menyerahkan kuasa untuk menggugat pengurus organisasi wartawan dengan menyebutkan ‘’ keberadaan organisasi pers di Indonesia jalannya seperti orang yang setengah mati,  tertatih tatih, tidak bisa memberi teladan yang baik kepada anggotanya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Aturan dilanggar, pedoman kerja yang diatur dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga PWI tidak diindahkan dan sebagainya.

Kenapa disebut demikian?, tanya saya dalam hati lagi.   yang kemudian di jawab ‘’tanya rumput yang sedang bergoyang’’. Kenapa tidak ada organisasi pers yang katanya punya tim pembela mau ringan tangan menemui Kadir Sijaya di tengah penderitaannya lima bulan di tahan hanya karena laporan tidak benar dari mantan ketua PWI Sulsel dan Asrul yang sedang berupaya naik banding ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan. Apa karena organisasi wartawan Indonesia lagi sedang tidak bisa jalan karena sedang setengah mati?. Mudah-mudahan rumput yang bergoyang dapat menjawabnya bahwa tidak  betul organisasi wartawan Indonesia sedang setengah mati karena organisasi ini dipimpin oleh orang yang mengerti organisasi pers. Semoga.

Penulis adalah wartawan dan praktisi hukum di Jakarta.