Upa Labuhari, Be’ce Yang di Duga Hina Wartawan  Perlu Diberi Penghargaan  

55

Upa Labuhari, Be’ce Yang di Duga Hina Wartawan  Perlu Diberi Penghargaan

Makassar-makassarpena.co.id. Masyarakat Peduli Pers yang beranggotakan beberapa wartawan senior di Makassar dan Jakarta, berencana dalam waktu dekat ini akan memberikan piagam penghargaan kepada Be’ce, atas keberaniannya berperan serta dalam memantau dan melaporkan analis mengenai pelanggara hukum , etika dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers khususnya wartawan di Makassar.

Upa Labuhari,SH, MH selaku penggagas pemberian penghargaan ini, dalam keterangannya kepada pers mengatakan dirinya begitu tersentuh atas keberanian Be’ce. Wanita yang berintektual tinggi di Makassar yang berani menuding beberapa wartawan Makassar yang sedang meliput kegiatan vaksinasi di SMA Negeri V Makassar awal Oktober lalu dengan mengatakan, wartawan itu kalau tidak diberi amplop tidak pulang.

Tudingan ini menurut Upa Labuhari,SH, MH yang juga adalah wartawan senior di Jakarta dan pengacara empat orang wartawan di Makassar yang sedang menggugat secara perdata terhadap Pengurus PWI Sulsel, PWI Pusat di Pengadilan Negeri Makassar, memuji keberanian Be’ce.

‘’Nyonya Be’ce  pasti memiliki bukti yang akurat sehingga sulit bagi wartawan yang dikenalnya suka datang ke Kepala Sekolah SMA Negeri V  untuk meminta amplop menghindar dari kenyataan,” kata Upa Labuhari,SH,MH.

Bahkan dengan lugas dan beraninya ia menyebutkan, silahkan lapor ke Polisi, jika kalimatnya itu tidak benar. Saya tidak takut.

Pernyataan Be’ce ini menurut Upa Labuhari,SH, MH perlu diappresiasikan sebagai suatu koreksi yang mahal untuk kalangan wartawan. ‘’ Janganlah wartawan marah terhadap tudingan ini,’’ kata Upa Labuhari,SH,MH. Tapi biarlah menjadi koreksi yang sangat pedas bagi kalangan wartawan bahwa masyarakat sekarang ini yang haus akan pemberitaan wartawan memantau juga perilaku wartawan.

Perbuatan  Be’ce berkomentar miring di depan umum menurut Upa Labuhari yang pernah menjadi ketua Departemen Kepolisian PWI Pusat selama 10 tahun sejak tahun 2003, adalah sesuai dengan pasal 17 ayat 1 dan 2a Undang Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang berbunyi ‘’ masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan, berupa memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, etika dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers”.

Untuk itulah menurut Upa Labuhari,SH, MH, ia menggagas ide agar keberanian  Be’ce berkomentar miring terhadap wartawan di Makassar perlu diberi appresiasi agar kelak dikemudian hari  tidak ada lagi wartawan di Makassar yang perbuatannya sebagaimana di katakan Be’ce. (*)