Pelapor Pencemaran Nama Baik PWI Sulsel di Ultimatum

98

Pelapor Pencemaran Nama Baik PWI Sulsel di Ultimatum

Makassar-makassarpena.co.id. Perseteruan antara Pengurus PWI Sulsel dengan seorang wartawan Jakarta  yang juga adalah pengacara empat wartawan Makassar yang menggugat perdata di Pengadilan Negeri Makassar, semakin merunjing. Wartawan Jakarta, Upa Labuhari, SH, MH akan melaporkan balik terhadap pelapor pencemaran nama baik pengurus PWI Sulsel  setelah laporan Pengurus PWI Sulsel tertanggal 5 April 2021 yang menyebut namanya telah dicemarkan lewat pemberitaan media online ‘’ Ujaran.com’’ dinyatakan tidak dapat ditingkatkan penyelidikannya oleh penyidik Krimsus karena dianggap bukan tindak pidana tapi merupakan perbuatan delik pers yang harus diselesaikan di Dewan Pers.

Dalam percakapan dengan beberapa media di Makassar setelah selesai mendampingi empat orang kliennya di Pengadilan Negeri Makassar, Selasa 5 Oktober lalu , Upa Labuhari, SH,MH menyatakan, pihaknya sudah mendapat sinyal dari penyidik Reskrimsus Polda Sulsel bahwa laporan pencemaran nama baik pengurus PWI Sulsel akan dihentikan penyidikannya setelah mendapat pemberitahuan dari Dewan Pers bahwa laporan itu bukan merupakan tindak pidana tapi  merupakan delik pers yang ranahnya ditangani oleh Dewan Pers.

Pemberitahuan itu, kata Upa Labuhari,SH,MH sebagai terlapor , pihaknya mengultimatum pelapor kasus pencemaran nama baik ini   yakni sdr Usdar Nawawi agar secepatnya mencabut laporannya di  Reserse Kriminal Umum Polda Sulsel sebelum  penyidiknya menyatakan laporan ini dihentikan penyidikannya. Kalau sampai penyidik Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel mengeluarkan surat penghentian penyelidikan atas laporannya itu karena bukan ranah pidana maka penghentian penyidikan itu akan digunakan  untuk melapor balik Sdr Usdar Nawawi sebagai  membuat laporan penghinaan yang tidak benar  dihadapan petugas negara sebagaimana diatur dalam pasal 317 dan 318 Kitab Undang Undang Hukum Pidana yang ancamannya masing masing empat tahun penjara.

Jika ultimatum itu dipatuhi oleh sdr Usdar, kata Upa Labuhari SH yang pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kepolisian PWI Pusat,  maka dengan tangan terbuka yang bersangkutan tidak akan dilapor balik. ‘’ Kita tinggal tunggu itikad baik sdr Usdar yang adalah pemimpin Redaksi media online Bugis Pos dan Wakil Ketua pembelaan wartawan di PWI Sulsel,” kata Upa Labuhari,SH, MH yang  dikenal sebagai   investigator  berbagai kasus kasus pidana di tanah air.

Menurut Upa Labuhari ada dua kesalahan  yang diperbuat oleh Usdar ketika melaporkan perkara yang disebut mencemarkan nama baik pengurus PWI Sulsel  ke penyidik Polda Sulsel. Kesalahan pertama, pihak yang merasa dicemarkan nama baiknya  tidak melakukan hak jawabnya untuk membantah berita yang ditenggarai sebagai pencemaran nama baik yang dimuat di media online . Padahal sebagai pelapor ia  tahu dengan pasti sebab yang bersangkutan adalah pengurus PWI Sulsel bahwa sesuatu berita yang dianggap tidak benar seharusnya korban dalam hal ini pengurus PWI Sulsel menggunakan hak jawab untuk membantahnya dimedia yang sama.

Tapi hal ini tidak dilakukan oleh yang bersangkutan. Ia hanya menggunakan haknya melapor kepada penyidik Polda Sulsel sebagai pencemaran nama baik.

Yang kedua adalah memberi keterangan kepada pers di Sulsel bahwa  terlapor mangkir atau tidak menghormati panggilan penyidik untuk diklarifikasi tentang pengaduannya. Akibatnya, pelapor mencabut beritanya itu setelah  media yang dipimpinnya disomasi.

Belajar dari kasus pelaporan penghinaan ini menurut Upa Labuhari,SH, MH, pihaknya berharap agar masyarakat tidak cepat membuat laporan kepada penyidik Polri atas adanya dugaan perbuatan tindak pidana. Karena apabila pihak penyidik menghentikan pelaporan adanya dugaan perbuatan pidana maka terlapor memiliki peluang besar untuk melapor balik.

‘’ Janganlah cepat cepat membuat laporan kepolisi kalau  dugaan tindak pidana yang dilaporkan itu tidak didukung dengan fakta yang pasti,” kata Upa Labuhari. Sebab akibatnya akan menunggu di ujung sana yang ancamannya empat tahun penjara.  (upa labuhari)